Mantan pemain tim nasional (timnas) Perancis dan Manchester United, Eric Cantona mengatakan, Thierry Henry beruntung karena Cantona bukanlah pemain Irlandia. Seandainya begitu, ia akan memukuli Henry sampai pingsan.
Pernyataan itu disampaikan berkaitan dengan kasus handsball Thierry Henry yang terjadi di leg kedua babak play-off kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Berkat handsball itu, Perancis bisa menutup laga dengan skor 1-1. Mereka pun lolos ke putaran final Piala Dunia dengan agregat 2-1.
Sementara kebanyakan orang mengecam handsball Henry, Cantona malah geregetan dengan pemain Irlandia. Menurutnya, ketika mereka tahu bahwa protes mereka tak didengar, seharusnya mereka memuliki Henry. Toh, hasilnya sama-sama tidak lolos.
"Apa yang membuat saya sangat terkejut adalah bahwa pemain ini (Henry), di akhir laga, di depan kamera TV, duduk di sebelah seorang pemain Irlandia untuk menghiburnya, padahal, ia baru saja mengacaukan mereka. Seandainya saya orang Irlandia, ia (Henry) tak akan bertahan lebih dari tiga detik," ujar Cantona.Penyerang tim nasional Perancis, Thierry Henry, mengaku malu dan menyesal atas handsball yang berujung gol ke gawang Irlandia. Menurutnya, satu-satunya cara untuk menebus itu adalah tanding ulang dan ia siap untuk itu.
"Aku telah mengatakan saat itu dan aku akan mengatakan lagi bahwa betul aku menyentuh bola. Aku tidak curang dan tidak pernah (curang). Itu reaksi instingtif ke bola yang dayang secara luar biasa cepat di kotak penalti yang padat. Bila orang-orang melihat melihat tayangan dalam kecepatan penuh (bukan slow motion), Anda akan melihat bahwa itu adalah reaksi instingtif," ujarnya.
"Secara alami. aku merasa malu atas cara kami menang dan sangat menyesal untuk warga Irlandia yang tentunya pantas berangkat ke (Piala Dunia 2010) Afrika Selatan. Tentu saja, solusi paling adil adalah menggelar tanding ulang pertandingan itu. Namun, itu di luar kewenanganku," lanjutnya.
Kasus handsball Henry terjadi di leg kedua babak play-off kualifikasi Piala Dunia, di Stade de France, Rabu (18/11). Usai mengendalikan bola dengan tangan, Henry mengirim umpan silang yang berujung terciptanya gol William Gallas.
Gol tersebut membuat Perancis bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Mengingat di leg pertama Perancis unggul 1-0, mereka pun berhak lolos ke putaran final dengan agregat 2-1.
Irlandia sedih, geram, dan kecewa melihat diri mereka tersingkir secara tak adil. Irlandia juga mengecam wasit yang memimpin pertandingan itu, Martin Hansson, karena dinilai tidak cermat dalam memimpin pertandingan. Mereka juga sudah mengajukan permohonan tanding ulang kepada FIFA, namun ditolak.
Henry sendiri sebetulnya sudah mengakui perbuatannya. Namun, menyadari perbuatannya merugikan Irlandia, Perancis, dan dirinya sendiri, ia pun mengaku siap mengulang laga leg kedua itu. Tapi, seperti dikatakannya, kewenangan itu tak berada di tangannya.
Sementara itu, meski tidak mau berkomentar soal pertandingan itu, Hansson tampak terbebani dengan keputusannya yang menghancurkan Irlandia itu. Namun, ia menegaskan, palu telah dijatuhkan dan hidup harus jalan terus
Fabio Cannavaro berpendapat, Thierry Henry seharusnya menjaga kelakuannya dengan tidak merayakan kemenangan Perancis atas Irlandia (aggregat 2-1) di atas situasi yang kontroversial ini. Cannavaro sedih melihat mantan pelatihnya, Giovani Trapattoni, tersingkir dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 2010.
Saat Perancis berhadapan dengan Irlandia, Henry sengaja mengontrol bola lebih dulu, sebelum membuat assit kepada William Gallas yang akhirnya tercipta gol penentu langkah Perancis ke putaran Piala Dunia 2010.
"Setelah gol terjadi, Henry seharusnya menjaga kelakukan bukannya merayakan kemenangan, sementara pihak lain merasa dirugikan. Mungkin ia seharusnya diam dan tetap tenang," ujarnya kepada Juventus Channel.
Atas hasil kontroversial ini, pihak Irlandia merasa dirugikan. "Saya minta maaf untuk Trapattoni, ada kalanya sesuatu yang salah bisa terjadi dalam pertandingan, " ujarnya.
Pemain Irlandia dapat diacungi jempol. Mereka menampilkan permainan yang baik dalam gaya permainan maupun kedisiplinan di lapangan. Perancis beruntung karena mereka menemukan lawan yang sangat sportif . Menteri Kesehatan dan Olahraga Perancis, Roselyn Bachelot, menilai, pelatih tim nasional Perancis, Raymond Domenech, tak becus bekerja dan membuat Perancis tampil seperti orang sesak nafas selama kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Menurutnya, seandainya Perancis tampil tajam dan meyakinkan, Perancis tak perlu memanfaatkan kelemahan wasit untuk bisa lolos.
Kasus handsball Henry terjadi pada duel leg kedua babak play-off kualifikasi Piala Dunia, Rabu (18/11). Saat itu, Henry mengontrol bola dengan tangan sebelum memberi assist kepada William Gallas. Berkat handsball itu, Perancis bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 sehingga berhak lolos dengan agregat 2-1.
Bachelot menjelaskan, akar permasalahan sebetulnya ada pada Domenech. Ia tak mampu memanfaatkan potensi pemain secara optimal. Padahal, seandainya Perancis tampil bagus, tidak kebobolan lebih dulu, dan bisa mencetak dua atau tiga gol, Irlandia mungkin tak bisa mencetak gol. Selain itu, handsball Henry tidak akan berpolemik karena Perancis menang meyakinkan.
"Kami memiliki tim Perancis yang sangat sesak napas, yang bermain imbang karena kesalahan wasit. Saya sangat ingin mengatakan kepadanya, 'Raymond, Anda harus bergantung kepada diri Anda sendiri dan pemain Anda karena kita, Perancis, adalah yang paling khawatir dan sedih'." katanya
Menambahkan itu, politikus Perancis, Philippe de Villiers, memberikan komentar lebih pedas kepada Domenech. Menurutnya, akibat ketidakmampuan Domenech, Perancis kehilangan harga diri seumur hidup.
"Raymond Domenech harus menyampaikan penyesalan ke muka publik dan membuktikan harga diri (dengan minta maaf) kepada Irlandia. Moral dari pertandingan (sepak bola) ini adalah Anda bisa curang selama Anda tidak ketahuan. Tim Perancis akan diberi cap sebagai tim curang selama bertahun-tahun," tandasnya.
Menanggapi kecaman atas dirinya, Domenech mengaku tak mengerti kenapa dirinya dan pasukannya digambarkan sebagai pihak bersalah. Menurutnya, kesalahan seharusnya ada di tangan wasit.
"Saya tidak mengerti kenapa kami menjadi gambaran pihak bersalah. Saya tidak melihat (handsball) saat itu. Setelah saya lihat (rekaman), saya baru melihat bahwa itu kesalahan wasit. Bagi saya, ini adalah permainan dan bukan kecurangan. Saya tidak mengerti, kenapa kami harus minta maaf," ulasnya.
"Saya tidak keberatan orang menuntut Thierry mengakui kesalahan. Namun, itu seharusnya berlaku sama untuk seluruh dunia. Kami tak akan melakukan (bunuh diri) karena wasit membuat kesalahan," tandasnya.
Sekadar menyegarkan ingatan, dalam sebuah pertandingan antara Liverpool versus Arsenal, pada akhir tahun 1990an, wasit memberikan penalti kepada Liverpool setelah Robbie Fowler dilanggar kiper David Seaman. Saat itu, kepada wasit, Fowler mengatakan bahwa Seaman tidak melanggarnya dan ia tidak pantas atas penalti itu.
Namun, wasit ngotot menghadiahkan penalti. Fowler, yang kemudian mengeksekusi, melakukan tembakan sedemikian rupa sehingga Seaman bisa dengan mudah menangkap bola itu. Princess akhirnya memang lolos ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel). Kepastian itu terjadi setelah mereka menang 2-1 atas Irlandia lewat perpanjangan waktu.
Namun, sukses Perancis itu diwarnai kontroversi besar. Sebab, gol penentu kemenangan Perancis yang dicetak William Gallas diawali aksi "Tangan Tuhan" Thierry Henry.
Pada pertandingan itu, Irlandia menang 1-0 selama 90 menit. Karena di leg pertama Perancis menang 1-0, maka agregat sama dan harus dilakukan perpanjangan waktu.
Nah, di masa perpanjangan waktu ini ketegangan semakin memuncak. Pada menit ke-103, Thierry Henry memburu umpan rekannya ke dekat gawang Irlandia. Terkesan sangat sengaja, Henry mengontrol bola dengan tangannya, sebelum membuat assist kepada Gallas. Umpan silangnya disantap Gallas dengan kepala dan gol.
Pelatih Irlandia Giovanni Trapattoni langsung protes. Begitu juga para pemain Irlandia karena merasa Henry jelas-jelas handsball terlebih dulu. Namun, wasit Martin Hansson dari Swedia tetap mengesahkan gol tersebut. Alhasil, Perancis jadi unggul 2-1.
Gol kontroversial Gallas itu pula yang akhirnya membawa Perancis ke putaran final di Piala Dunia 2010. Ini salah satu skandal sepak bola. Dalam rekaman video terlihat jelas, Henry terkesan sengaja mengontrol bola dengan tangannya, kemudian membuat umpan kepada William Gallas.
Kasusnya hampir sama dengan gol "Tangan Tuhan" Maradona saat Argentina melawan Inggris di Piala Dunia 1986. Saat itu Maradona menyundul bola dengan tangannya dan menaklukkan kiper Peter Shilton. Namun, wasit tak melihat dan gol tetap disahkan. Dalam rekaman video, terlihat jelas Maradona menyundul bola dengan tangannya, bukan kepalanya. Hal itu membuat Argentina melaju dan akhirnya tampil sebagai juara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar